-->

Lensakodim0409

Lensakodim0409

"Mengenal Lebih Dekat UMKM ChaCha Mentari Batik” Asal Bengkulu

Di Tengah berkembangnya industri kreatif berbasis budaya lokal, hadir berbagai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah  (UMKM) yang berperan penting dalam menjaga sekaligus memasarkan warisan tradisional. Salah satunya adalah ChaCha Mentari Batik, sebuah usaha yang mempromosikan dan menjual Batik Kaganga Bengkulu. 

Batik Kaganga merupakan batik khas dari Wilayah Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Nama “Kaganga” berasal dari aksara tradisional masyarakat Rejang yang dahulu digunakan untuk menulis naskah adat, hukum, dan sastra masyarakat Rejang. Aksara kaganga inilah yang menjadi inspirasi utama dalam motif batik ini. Dengan mengangkat unsur budaya lokal sebagai elemen visual, Batik Kaganga bukan hanya sekadar kain melainkan simbol identitas daerah. 

Batik ChaCha Mentari memiliki sejumlah keunikan yang membedakan dari batik daerah lain di Indonesia.  

1. Motif Aksara Tradisional  Ciri paling menonjol dari Batik ChaCha Mentari adalah penggunaan aksara kaganga dalam desainnya. Aksara tradisional tersebut disusun menjadi pola artistik yang sarat makna filosofis, melambangkan kearifan lokal dan kebanggaan masyarakat Rejang. 

2. Perpaduan Unsur Alam Selain aksara, motif Batik ChaCha Mentari sering dipadukan dengan unsur flora khas Bengkulu, seperti bunga rafflesia Arnoldi, dan bunga kibut, cengkeh, kopi, cerano, serta ikan mas. Kombinasi ini menghasilkan desain yang unik dan berbeda dari batik daerah lain. 



3. Teknik Pembuatan Tradisional Batik ChaCha Mentari umumnya dibuat dengan teknik tulis menggunakan canting dan malam (lilin batik). Proses ini membutuhkan ketelitian, dan waktu yang tidak singkat, sehingga setiap lembarnya memiliki karakter unik. Walaupun tersedia versi cap, namun tetap dikombinasikan dengan teknik tulis. 

4. Warna dan Inovasi Modern Batik ChaCha Mentari menghadirkan inovasi berbagai pilihan warna dan desain yang fleksibel, sehingga batik dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, baik  acara formal maupun informal.  


UMKM memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha maupun masyarakat disekitarnya. UMKM membantu pelaku usaha meningkatkan taraf hidup keluarga, lebih mandiri secara finansial, mengembangkan kreativitas, meningkatkan produktivitas, meningkatkan kepercayaan diri dan status sosial. Adapun dampak UMKM Batik ChaCha Mentari terhadap perekonomian sekitar adalah : 

1. Peningkatkan Pendapatan Pengrajin Lokal Permintaan terhadap Batik ChaCha Mentari mendorong peningkatan produksi oleh pengrajin lokal. Semakin banyak pesanan yang masuk, semakin besar pula peluang pendapatan yang diperoleh pengrajin dan pekerja batik di daerah tersebut. 

2. Membuka Lapangan Pekerjaan Industri batik tahapan. melibatkan banyak Mulai pencantingan, dari pewarnaan, desain, hingga pemasaran. Dengan berkembangnya usaha seperti Batik ChaCha Mentari, membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar khususnya ibu rumah tangga dan generasi muda. 

3. Mendorong Pertumbuhan UMKM  Batik ChaCha Mentari menjadi bagian sektor ekonomi kreatif yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan daerah. Dukungan promosi melalui media sosial dan pameran UMKM memperluas pasar hingga ke luar Bengkulu. 

4. Penguatan Identitas dan Pariwisata Daerah Keberadaan Batik ChaCha Mentari turut memperkuat citra Rejang Lebong sebagai daerah yang kaya budaya. Wisatawan yang berkunjung ke Rejang Lebong bisa menjadikan batik ini sehingga sebagai oleh-oleh khas, sektor pariwisata perdagangan lokal ikut terdorong. 

Dengan mengangkat motif aksara Kaganga, dan unsur budaya lokal sebagai elemen visual, UMKM Batik ChaCha Mentari tidak hanya berperan sebagai pelaku usaha, akan tetapi sebagai pelestari budaya Bengkulu. Keberadaannya memberikan dampak Positif bagi perekonomian msyarakat sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Capai Progres 82 Persen, Jembatan Gantung Garuda Tingkatkan Antusias Warga Dwi Tunggal

Curup – Pembangunan Jembatan Gantung Garuda di Kelurahan Dwi Tunggal, Kabupaten Rejang Lebong, terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Program yang digagas Kodim 0409/Rejang Lebong ini menjadi harapan baru bagi masyarakat untuk mendapatkan akses penghubung yang lebih aman, nyaman, dan memadai.

Pada Senin, 04 Mei 2026, proses pembangunan terus berjalan dengan penuh semangat kebersamaan antara TNI dan masyarakat. Hingga saat ini, progres pekerjaan telah mencapai 82 persen. Pengerjaan kini difokuskan pada pemasangan sling jembatan yang berfungsi sebagai penopang utama konstruksi.

Tahapan ini menjadi bagian penting dalam memastikan kekuatan dan ketahanan jembatan saat nantinya digunakan masyarakat. Dengan pengerjaan yang teliti dan terukur, diharapkan jembatan dapat berdiri kokoh serta memberikan rasa aman bagi setiap warga yang melintas.

Jembatan gantung ini dirancang memiliki panjang 72 meter dengan lebar 1,2 meter. Kehadirannya akan memberikan manfaat bagi 541 kepala keluarga atau sekitar 1.040 jiwa. Tak heran, warga menyambut pembangunan ini dengan penuh antusias karena akan sangat membantu aktivitas sehari-hari.

Selain menjadi penghubung Kelurahan Dwi Tunggal dengan Desa Rimbo Recap, jembatan ini juga diyakini mampu memperlancar distribusi hasil pertanian masyarakat. Akses yang lebih cepat dan efisien akan membantu menekan biaya transportasi, sehingga pendapatan warga berpeluang meningkat.

Komandan Kodim 0409/Rejang Lebong, Letkol Inf Agung Lewis Oktorada, M.Tr., Opsla, menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian TNI terhadap kesulitan masyarakat. Ia berharap jembatan tersebut dapat mempermudah warga dalam membawa hasil panen, menghemat biaya angkut, serta meningkatkan kesejahteraan.

Semangat gotong royong antara TNI dan warga menjadi bukti bahwa kebersamaan adalah kunci utama dalam mewujudkan pembangunan yang sukses. Dengan kerja sama yang solid, jembatan ini diharapkan segera rampung dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara maksimal.

Jembatan Gantung Garuda Warga Lubuk Bingin Baru Capai Progres 40 Persen

Pembangunan Jembatan Gantung Garuda di Desa Lubuk Bingin Baru, Kecamatan Sindang Beliti Ilir, Kabupaten Rejang Lebong, terus menunjukkan perkembangan positif. Kehadiran jembatan ini menjadi harapan besar bagi masyarakat yang selama ini membutuhkan akses penghubung yang aman dan layak untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Program ini merupakan inisiatif Kodim 0409/Rejang Lebong sebagai bentuk kepedulian terhadap pembangunan infrastruktur di wilayah pedesaan. Melalui pembangunan jembatan tersebut, diharapkan akses masyarakat semakin lancar serta mampu mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi desa.

Pada Jumat, 01 Mei 2026, pekerjaan di lapangan masih difokuskan pada tahap pembuatan pondasi jembatan. Personel TNI bersama warga terus melakukan pemasangan besi, pengecoran, serta penguatan struktur dasar sebagai penopang utama bangunan. Hingga saat ini, progres pembangunan telah mencapai 40 persen.

Komandan Kodim 0409/Rejang Lebong, Letkol Inf Agung Lewis Oktorada, M.Tr., Opsla, menyampaikan apresiasi atas semangat gotong royong masyarakat yang terus terlibat aktif dalam setiap tahapan pekerjaan. Menurutnya, kekompakan antara TNI dan warga menjadi kunci utama percepatan pembangunan jembatan tersebut.

Ia berharap pembangunan dapat berjalan lancar hingga selesai sesuai rencana. Dengan hadirnya Jembatan Gantung Garuda, masyarakat nantinya akan lebih mudah melakukan mobilitas, terutama para petani dalam mengangkut hasil panen menuju pasar maupun pusat perekonomian lainnya.

Jembatan ini direncanakan memberikan manfaat langsung bagi 341 Kepala Keluarga dengan jumlah 621 jiwa. Kehadiran akses baru tersebut diharapkan mampu meningkatkan kenyamanan, keamanan, serta mempercepat berbagai aktivitas masyarakat di Desa Lubuk Bingin Baru.


Semangat kebersamaan yang ditunjukkan warga dalam pembangunan ini menjadi bukti kuat bahwa gotong royong masih hidup di tengah masyarakat. Jembatan Gantung Garuda tidak hanya menjadi sarana penghubung antarwilayah, tetapi juga simbol kemajuan dan harapan baru menuju kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.


Persit Kodam XXI/Radin Inten Dorong UMKM Lokal Naik Kelas

        Ibu Dewa adalah seorang Persit (istri prajurit TNI AD) yang tidak hanya setia mendampingi tugas suami, tetapi juga berkarier sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Ketekunan dan semangat pengabdiannya tidak hanya terlihat dalam keluarga dan pekerjaan, tetapi juga dalam kepedulian terhadap perempuan di sekitarnya.

     Berangkat dari keprihatinannya melihat banyak ibu rumah tangga yang memiliki waktu, dan keterampilan, namun belum memiliki wadah produktif untuk mengembangkan potensi tersebut, Ibu Dewa tergerak untuk menghadirkan solusi nyata. Beliau menyadari bahwa perempuan memiliki kemampuan besar yang perlu di dukung agar dapat mandiri secara ekonomi.

     Di sisi lain, Kabupaten Rejang Lebong menyimpan warisan budaya yang berharga, salah satunya Batik ChaCha Mentari. Batik ChaCha Mentari bukan sekadar kain bermotif indah, tetapi merupakan batik khas yang lahir dari kekayaan budaya daerah, memiliki nilai filosofis dan menjadi identitas budaya Kabupaten Rejang Lebong. Motifnya terinspirasi dari aksara kaganga, simbol warisan leluhur masyarakat rejang yang sarat makna dan nilai sejarah.

     Dengan latar belakang tersebut, tekad Ibu Dewa semakin bulat untuk mendirikan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah  (UMKM) Batik ChaCha Mentari. Dengan semangat kebersamaan, beliau mulai mengumpulkan ibu-ibu rumah tangga di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka berkumpul di teras rumah, belajar menggambar pola, mencanting, hingga mewarnai kain. Batik ChaCha Mentari memiliki 3 pengrajin batik, dan setiap bulannya bisa memproduksi sebanyak 10-30 buah helai  kain. Perlahan tapi pasti, hasil kerja mereka membuahkan hasil, pesanan datang walaupun masih sekitar wilayah Bengkulu.

   Persit Kartika Chandra Kirana (Persit KCK) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung anggotanya untuk terus berkembang dan berkarya melalui berbagai program pemberdayaan, salah satunya program Persit Bisa. Program Persit Bisa itu sendiri merupakan wadah pemberdayaan yang bertujuan meningkatkan kapasitas, kemandirian, dan kesejahteraan anggota melalui pengembangan UMKM. Setelah sukses dengan program Persit Bisa pada tahun 2025 yang di selenggarakan di Balai Kartini Jakarta, pada tahun ini dibulan Mei bertempat di Balai Kartini Jakarta, Persit KCK kembali menyelenggarakan program Persit Bisa. 

     Pada Persit Bisa tahun ini, Batik ChaCha Mentari terpilih sebagai perwakilan UMKM dari Cabang XX Dim 0409  Koorcab Rem 041 PD XXI/ Radin Inten. Ny. Ratih Agung selaku Ketua cabang XX Dim 0409 Koorcab Rem 041 PD XXI/ Radin Inten menyampaikan rasa bangga dan apresiasi yang tinggi atas terpilihnya Batik ChaCha Mentari dalam Program Persit Bisa. 

“ Kami sangat bangga dan mengapresiasi terpilihnya UMKM Batik ChaCha Mentari dalam program Persit Bisa. Ini merupakan bukti bahwa kerja keras, kreativitas, dan semangat anggota Persit dalam mengembangkan usaha patut diapresiasikan.” 

     Terpilihnya Batik ChaCha Mentari tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Salah satu dukungan terbesar datang dari Pembina Persit dan Ketua Persit KCK, yang selalu senantiasa memberikan motivasi, arahan, serta kesempatan bagi anggota untuk mengembangkan potensi usaha yang dimiliki. Dukungan tersebut diwujudkan melalui pembinaan berkelanjutan, pendampingan usaha, serta pemberian ruang promosi dalam perbagai kegiatan organisasi.

     Banyak harapan yang ingin dicapai dengan terpilihnya Batik ChaCha Mentari dalam Program Persit Bisa, antara lain pelestarian budaya Rejang Lebong, peningkatan promosi Batik ChaCha Mentari, dan membantu meningkatkan kesejahteraan ibu rumah tangga.

     Keberhasilan UMKM Batik ChaCha Mentari diharapkan menjadi inspirasi bagi anggota lainnya untuk terus berani berkarya, berinovasi, dan berkembang. Mari kita Bersama-sama mendukung UMKM sebagai bentuk kontribusi nyata dalam memperkuat perekonomian nasional.

Capai Progress 58 Persen, Jembatan Gantung Garuda Tingkatkan Antusias Warga Dwi Tunggal Rejang Lebong

Curup – Pembangunan Jembatan Gantung Garuda di Kelurahan Dwi Tunggal, Kabupaten Rejang Lebong, terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Program yang digagas Kodim 0409/Rejang Lebong ini menjadi harapan baru bagi masyarakat untuk mendapatkan akses penghubung yang lebih aman, nyaman, dan memadai.

Pada Kamis, 30 April 2026, proses pembangunan terus berjalan dengan penuh semangat kebersamaan antara TNI dan masyarakat. Hingga saat ini, progres pekerjaan telah mencapai 58 persen. Pengerjaan saat ini berfokus pada pemasangan tiang jembatan serta pengelasan sebagai bagian penting dalam penyempurnaan konstruksi.

Tahapan tersebut merupakan bagian penting dalam memastikan kekuatan dan ketahanan jembatan saat nantinya digunakan masyarakat. Dengan pengerjaan yang teliti dan terukur, jembatan ini diharapkan mampu berdiri kokoh serta memberikan rasa aman bagi warga yang melintas setiap hari.

Jembatan gantung ini dirancang memiliki panjang 72 meter dengan lebar 1,2 meter. Kehadirannya nanti akan memberi manfaat bagi 541 kepala keluarga atau sekitar 1.040 jiwa. Warga menyambut pembangunan ini dengan penuh antusias karena akan mempermudah aktivitas sehari-hari, terutama bagi petani dan pelaku usaha kecil.

Selain menjadi penghubung Kelurahan Dwi Tunggal dengan Desa Rimbo Recap, jembatan ini juga diyakini mampu memperlancar distribusi hasil pertanian masyarakat. Akses yang lebih cepat dan efisien akan membantu menekan biaya transportasi, sehingga pendapatan warga berpeluang meningkat dan perekonomian daerah semakin berkembang.

Komandan Kodim 0409/Rejang Lebong, Letkol Inf Agung Lewis Oktorada, M.Tr., Opsla, menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian TNI terhadap kesulitan masyarakat. Ia berharap jembatan tersebut dapat mempermudah warga membawa hasil panen, menghemat biaya angkut, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Semangat gotong royong antara TNI dan warga pun menjadi bukti bahwa kebersamaan adalah kunci utama dalam mewujudkan kemajuan daerah.

Back To Top