-->

Lensakodim0409

Lensakodim0409

Batik ChaCha Mentari Siap Tampil di Ajang Persit Bisa 2 di Jakarta

Batik ChaCha Mentari dari Rejang Lebong bersiap mengikuti ajang Persit Bisa 2 yang akan digelar di Jakarta. Keikutsertaan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk batik lokal ke tingkat yang lebih luas. 

Persiapan telah dilakukan sejak awal Januari 2026. Proses produksi dilakukan di workshop Batik ChaCha Mentari dengan melibatkan para pengrajin lokal. Tahapan produksi meliputi pemilihan bahan, pembuatan motif, hingga proses pewarnaan yang dikerjakan secara teliti. 

Selain kain batik, Batik ChaCha Mentari juga menyiapkan produk siap pakai berupa kemeja batik pria. Produk tersebut dirancang dengan desain modern dan dapat digunakan untuk berbagai kegiatan, baik formal maupun nonformal. 

Setelah proses produksi selesai, tim melakukan kurasi untuk menentukan produk yang akan dibawa ke ajang tersebut. Pemilihan dilakukan dengan mempertimbangkan kualitas bahan, kerapian jahitan, serta tampilan produk secara keseluruhan. 

Keberangkatan tim Batik ChaCha Mentari menuju Jakarta dilepas oleh Pembina serta Ketua Persit KCK Cabang XX Dim 0409 Koorcab Rem 041 PD XXI/Radin Inten. Pelepasan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap partisipasi dalam ajang Persit Bisa 2. 

Melalui keikutsertaan ini, Batik ChaCha Mentari diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran sekaligus meningkatkan apresiasi masyarakat  terhadap produk batik lokal. 

Pengunjung Persit Bisa 2 nantinya dapat melihat langsung berbagai koleksi batik yang ditampilkan di booth Batik ChaCha Mentari. Produk yang dipamerkan meliputi kain batik serta kemeja dengan beragam motif khas. 

Keikutsertaan Batik ChaCha Mentari dalam ajang ini menjadi salah satu upaya pelaku usaha lokal dalam mengembangkan industri kreatif berbasis budaya, sekaligus memperkenalkan potensi daerah ke tingkat nasional.

Capai 86 Persen, Jembatan Gantung Garuda Tingkatkan Antusias Warga Dwi Tunggal

Curup – Pembangunan Jembatan Gantung Garuda di Kelurahan Dwi Tunggal, Kabupaten Rejang Lebong, terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Program yang digagas oleh Kodim 0409/Rejang Lebong ini menjadi harapan baru bagi masyarakat untuk memperoleh akses penghubung yang lebih aman, nyaman, dan memadai.

Pada Rabu, 6 Mei 2026, kegiatan pembangunan masih terus berlangsung dengan semangat kebersamaan antara TNI dan masyarakat. Hingga saat ini, progres pekerjaan telah mencapai 86 persen, menandakan bahwa proyek tersebut semakin mendekati tahap penyelesaian.

Saat ini, fokus pengerjaan diarahkan pada pengecoran rabat beton di bagian pangkal jembatan. Pekerjaan tersebut menjadi akses utama yang nantinya digunakan masyarakat sebagai jalur keluar masuk menuju jembatan gantung.


Tahapan pengecoran ini dinilai sangat penting karena berperan dalam menopang kekuatan struktur jembatan secara keseluruhan. Dengan pengerjaan yang dilakukan secara teliti dan sesuai standar, jembatan diharapkan mampu bertahan lama serta aman digunakan.

Jembatan gantung ini memiliki panjang 72 meter dengan lebar 1,2 meter. Kehadirannya diproyeksikan akan memberikan manfaat bagi 541 kepala keluarga atau sekitar 1.040 jiwa yang selama ini membutuhkan akses penyeberangan yang layak.

Selain menghubungkan Kelurahan Dwi Tunggal dengan Desa Rimbo Recap, jembatan ini juga diyakini dapat memperlancar distribusi hasil pertanian warga. Akses yang lebih mudah akan membantu mengurangi biaya angkut dan meningkatkan nilai ekonomi hasil panen masyarakat.

Komandan Kodim 0409/Rejang Lebong, Letkol Inf Agung Lewis Oktorada, M.Tr., Opsla, menyampaikan bahwa pembangunan ini merupakan bentuk kepedulian TNI terhadap kesulitan masyarakat. Ia berharap jembatan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan warga, sekaligus memperkuat semangat gotong royong dalam membangun daerah.



Jembatan Gantung Garuda Penyambung Asa Desa Lubuk Bingin Baru, Progres Capai 50 Persen

Pembangunan Jembatan Gantung Garuda menjadi angin segar bagi masyarakat Desa Lubuk Bingin Baru, Kecamatan Sindang Beliti Ilir (SBI), Kabupaten Rejang Lebong. Kehadiran jembatan ini membawa harapan baru bagi warga yang selama ini membutuhkan akses penghubung yang lebih aman dan mudah. Infrastruktur tersebut diyakini mampu membuka keterisolasian wilayah pedesaan. Selain itu, jembatan ini juga diharapkan menjadi pendorong kemajuan desa ke arah yang lebih baik.

Proyek pembangunan ini merupakan inisiatif Kodim 0409/Rejang Lebong sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat. Langkah tersebut menjadi wujud nyata percepatan pembangunan infrastruktur di daerah yang membutuhkan perhatian lebih. Pada Selasa, 05 Mei 2026, pengerjaan jembatan terus menunjukkan perkembangan signifikan. Saat ini, pekerjaan difokuskan pada penguatan struktur utama serta penyempurnaan bagian pondasi dan rangka jembatan.

Hingga saat ini, progres pembangunan Jembatan Gantung Garuda telah mencapai 50 persen. Nantinya, jembatan ini akan dibangun dengan panjang 60 meter dan lebar 1,2 meter. Ukuran tersebut dinilai cukup ideal untuk menunjang mobilitas warga sehari-hari. Dengan hadirnya jembatan ini, akses antarwilayah akan menjadi lebih cepat, aman, dan efisien.

Komandan Kodim 0409/Rejang Lebong, Letkol Inf Agung Lewis Oktorada, M.Tr., Opsla, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pembangunan. Ia menegaskan bahwa pembangunan bukan sekadar menghadirkan infrastruktur, tetapi juga membawa harapan dan masa depan bagi masyarakat. Semangat kebersamaan yang terbangun selama proses pengerjaan menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan pembangunan yang berkualitas.

Manfaat besar dari pembangunan jembatan ini akan dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya para petani. Mereka nantinya akan lebih mudah membawa hasil panen menuju pasar atau pusat penjualan. Waktu tempuh yang sebelumnya cukup lama dapat dipersingkat secara signifikan. Hal ini tentu berdampak pada efisiensi biaya serta peningkatan pendapatan warga. 

Selain memberikan dampak ekonomi, jembatan ini juga akan mempermudah akses masyarakat terhadap layanan pendidikan dan kesehatan. Anak-anak dapat berangkat ke sekolah dengan lebih aman, sementara warga yang membutuhkan layanan kesehatan dapat menjangkaunya dengan lebih cepat. Kehadiran jembatan ini menjadi solusi nyata atas berbagai keterbatasan akses yang selama ini dihadapi masyarakat.

Pembangunan Jembatan Gantung Garuda juga menjadi simbol kuat semangat gotong royong antara TNI dan masyarakat. Antusiasme warga terlihat nyata dalam setiap tahapan pekerjaan yang dilaksanakan bersama. Kebersamaan ini membuktikan bahwa kemajuan daerah dapat terwujud melalui kerja sama yang solid. Dengan semangat persatuan, jembatan ini diharapkan benar-benar menjadi penyambung asa menuju kesejahteraan masyarakat.

"Mengenal Lebih Dekat UMKM ChaCha Mentari Batik” Asal Bengkulu

Di Tengah berkembangnya industri kreatif berbasis budaya lokal, hadir berbagai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah  (UMKM) yang berperan penting dalam menjaga sekaligus memasarkan warisan tradisional. Salah satunya adalah ChaCha Mentari Batik, sebuah usaha yang mempromosikan dan menjual Batik Kaganga Bengkulu. 

Batik Kaganga merupakan batik khas dari Wilayah Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Nama “Kaganga” berasal dari aksara tradisional masyarakat Rejang yang dahulu digunakan untuk menulis naskah adat, hukum, dan sastra masyarakat Rejang. Aksara kaganga inilah yang menjadi inspirasi utama dalam motif batik ini. Dengan mengangkat unsur budaya lokal sebagai elemen visual, Batik Kaganga bukan hanya sekadar kain melainkan simbol identitas daerah. 

Batik ChaCha Mentari memiliki sejumlah keunikan yang membedakan dari batik daerah lain di Indonesia.  

1. Motif Aksara Tradisional  Ciri paling menonjol dari Batik ChaCha Mentari adalah penggunaan aksara kaganga dalam desainnya. Aksara tradisional tersebut disusun menjadi pola artistik yang sarat makna filosofis, melambangkan kearifan lokal dan kebanggaan masyarakat Rejang. 

2. Perpaduan Unsur Alam Selain aksara, motif Batik ChaCha Mentari sering dipadukan dengan unsur flora khas Bengkulu, seperti bunga rafflesia Arnoldi, dan bunga kibut, cengkeh, kopi, cerano, serta ikan mas. Kombinasi ini menghasilkan desain yang unik dan berbeda dari batik daerah lain. 



3. Teknik Pembuatan Tradisional Batik ChaCha Mentari umumnya dibuat dengan teknik tulis menggunakan canting dan malam (lilin batik). Proses ini membutuhkan ketelitian, dan waktu yang tidak singkat, sehingga setiap lembarnya memiliki karakter unik. Walaupun tersedia versi cap, namun tetap dikombinasikan dengan teknik tulis. 

4. Warna dan Inovasi Modern Batik ChaCha Mentari menghadirkan inovasi berbagai pilihan warna dan desain yang fleksibel, sehingga batik dapat digunakan dalam berbagai kesempatan, baik  acara formal maupun informal.  


UMKM memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha maupun masyarakat disekitarnya. UMKM membantu pelaku usaha meningkatkan taraf hidup keluarga, lebih mandiri secara finansial, mengembangkan kreativitas, meningkatkan produktivitas, meningkatkan kepercayaan diri dan status sosial. Adapun dampak UMKM Batik ChaCha Mentari terhadap perekonomian sekitar adalah : 

1. Peningkatkan Pendapatan Pengrajin Lokal Permintaan terhadap Batik ChaCha Mentari mendorong peningkatan produksi oleh pengrajin lokal. Semakin banyak pesanan yang masuk, semakin besar pula peluang pendapatan yang diperoleh pengrajin dan pekerja batik di daerah tersebut. 

2. Membuka Lapangan Pekerjaan Industri batik tahapan. melibatkan banyak Mulai pencantingan, dari pewarnaan, desain, hingga pemasaran. Dengan berkembangnya usaha seperti Batik ChaCha Mentari, membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar khususnya ibu rumah tangga dan generasi muda. 

3. Mendorong Pertumbuhan UMKM  Batik ChaCha Mentari menjadi bagian sektor ekonomi kreatif yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan daerah. Dukungan promosi melalui media sosial dan pameran UMKM memperluas pasar hingga ke luar Bengkulu. 

4. Penguatan Identitas dan Pariwisata Daerah Keberadaan Batik ChaCha Mentari turut memperkuat citra Rejang Lebong sebagai daerah yang kaya budaya. Wisatawan yang berkunjung ke Rejang Lebong bisa menjadikan batik ini sehingga sebagai oleh-oleh khas, sektor pariwisata perdagangan lokal ikut terdorong. 

Dengan mengangkat motif aksara Kaganga, dan unsur budaya lokal sebagai elemen visual, UMKM Batik ChaCha Mentari tidak hanya berperan sebagai pelaku usaha, akan tetapi sebagai pelestari budaya Bengkulu. Keberadaannya memberikan dampak Positif bagi perekonomian msyarakat sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Capai Progres 82 Persen, Jembatan Gantung Garuda Tingkatkan Antusias Warga Dwi Tunggal

Curup – Pembangunan Jembatan Gantung Garuda di Kelurahan Dwi Tunggal, Kabupaten Rejang Lebong, terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Program yang digagas Kodim 0409/Rejang Lebong ini menjadi harapan baru bagi masyarakat untuk mendapatkan akses penghubung yang lebih aman, nyaman, dan memadai.

Pada Senin, 04 Mei 2026, proses pembangunan terus berjalan dengan penuh semangat kebersamaan antara TNI dan masyarakat. Hingga saat ini, progres pekerjaan telah mencapai 82 persen. Pengerjaan kini difokuskan pada pemasangan sling jembatan yang berfungsi sebagai penopang utama konstruksi.

Tahapan ini menjadi bagian penting dalam memastikan kekuatan dan ketahanan jembatan saat nantinya digunakan masyarakat. Dengan pengerjaan yang teliti dan terukur, diharapkan jembatan dapat berdiri kokoh serta memberikan rasa aman bagi setiap warga yang melintas.

Jembatan gantung ini dirancang memiliki panjang 72 meter dengan lebar 1,2 meter. Kehadirannya akan memberikan manfaat bagi 541 kepala keluarga atau sekitar 1.040 jiwa. Tak heran, warga menyambut pembangunan ini dengan penuh antusias karena akan sangat membantu aktivitas sehari-hari.

Selain menjadi penghubung Kelurahan Dwi Tunggal dengan Desa Rimbo Recap, jembatan ini juga diyakini mampu memperlancar distribusi hasil pertanian masyarakat. Akses yang lebih cepat dan efisien akan membantu menekan biaya transportasi, sehingga pendapatan warga berpeluang meningkat.

Komandan Kodim 0409/Rejang Lebong, Letkol Inf Agung Lewis Oktorada, M.Tr., Opsla, menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian TNI terhadap kesulitan masyarakat. Ia berharap jembatan tersebut dapat mempermudah warga dalam membawa hasil panen, menghemat biaya angkut, serta meningkatkan kesejahteraan.

Semangat gotong royong antara TNI dan warga menjadi bukti bahwa kebersamaan adalah kunci utama dalam mewujudkan pembangunan yang sukses. Dengan kerja sama yang solid, jembatan ini diharapkan segera rampung dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara maksimal.

Back To Top